RSS

Dari Konser ’16th Anniversary’ Sheila on 7 di Yogyakarta

21 May

Dari Yogya Sheila On 7 mengajarkan bahwa kecintaan terhadap musik adalah resep panjang umur sebuah band. Oleh: Fakhri Zakaria

Image

Jakarta – “Aku bisa bilang seratus persen kami suka main musik. Sampai hari ini kami suka pekerjaan ini,” ujar Eross Chandra, gitaris dari salah satu produk band terbaik yang pernah dihasilkan Yogyakarta tersebut, dengan penuh keyakinan saat Rolling Stone menemuinya di gladi resik Sheila On 7 16th Anniversary Concert. Eross tidak membual. Keesokan harinya perkataannya menemui kenyataan. 

Sekitar 4.500 Sheila Gank (sebutan untuk penggemar band tersebut) yang hadir sudah menyemut sejak siang di lokasi konser, Grand Pacific Hall, Jalan Magelang, Yogyakarta. Datang dari berbagai daerah, mulai dari sekitaran Yogya, Jabodetabek dan Jawa Barat, Padang, Makassar, bahkan Malaysia, mereka dengan tertib membuat antrian sepanjang 100 meter hingga nyaris menyentuh bibir jalan raya.

Image

Pun meski harus antri dibawah guyuran hujan yang sempat mampir beberapa saat. Mereka dengan antusias menunggu penampilan Akhdiyat Duta Modjo (vokal), Eross Chandra (gitar), Adam M. Subarkah (bass) serta Brian Kresno Putro (drum).

Image
Selama tiga jam Sheila On 7 dibantu additional keyboardist Ferry Efka, menggelontorkan lebih dari 30 lagu dari seluruh katalog album mereka, Sheila On 7 (1999), Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000), 7 Des (2002),OST. 30 Hari Mencari Cinta (2003), Pejantan Tangguh (2004), The Very Best of Sheila On 7: Jalan Terus(2005), 507 (2006), Menentukan Arah (2008), hingga Berlayar (2011). Image

Dengan konsep 3 Hours on 3 Sessions, konser malam itu menyajikan pengalaman yang mengesankan dari semua aspek. Disediakan dua panggung. Panggung utama dengan dekorasi ciamik hasil karya M. Rizky Sasono, pentolan band psikadelik Risky Summerbee and The Honeythief, dari Teater Garasi dan panggung untuk sesi akustik yang ditempatkan ditengah-tengah bangku kelas VIP.

Akustik ruangan bekerja cukup baik untuk mendukung sistem tata suara. Setidaknya untuk ukuran sebuah gedung serbaguna yang juga sering dipakai untuk menggelar pesta pernikahan. “Konsep ini awalnya small gigs for big fans. Kalo stadion jatuhnya nggak akan beda jauh sama-sama konser buatan perusahaan rokok,” ujar Brian sambil tersenyum.

Penonton duduk dengan takzim menunggu konser dimulai. Saat versi instrumental lagu “Tunjuk Satu Bintang” diperdengarkan, mereka segera menyemut ke bibir panggung utama yang dibatasi barikade. Teriakan makin membuncah saat Duta, Eross, Adam dan Brian membuka penampilan lewat “Tentang Hidup” yang diambil dari album 07 Des disusul “Bertahan Di Sana.”

Jika masih banyak yang bertanya kemana saja Sheila On 7 selama ini, inilah jawaban nyatanya. Mereka tetap ada. Bertahan ditengah penggemar-penggemar setianya. Di bangku VIP tampak Jan Djuhana, Artist & Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia. Sosok yang menemukan dan mengangkat nama Sheila On 7.

Malam itu gempa tremor berulang kali terasa. Dimulai saat “Bila Kau Tak Disampingku” dan disusul nomor yang membuka jalan Sheila On 7 ke industri musik, “Kita.” Di “Angerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki,” lagu yang pernah dituding menjiplak “Father And Son” milik Cat Stevens, Eross sempat-sempatnya menyisipkan “My Heart Will Go On” milik Celine Dion. 

Duta seolah ingin menunjukkan kualitas vokalnya tidak berbanding lurus dengan badan kurusnya. Sebagai vokalis sekaligus frontman, malam itu vokalis yang juga punya side project Yakuyaya, band bentukannya bersama Adam menunaikan tugasnya dengan baik. Pun meski Duta tak sanggup bernyanyi, dirinya sudah punya backing vocal lebih dari cukup. “Alasan kami tetap bertahan disini adalah kami punya bibit vokal terbaik sepanjang masa yang nggak akan capek bernyanyi,” ujar Duta. 

Malam itu juga menjadi gambaran bagaimana Sheila On 7 bersenang-senang lewat musik. Adam, yang tampaknya bisa menjadikan profesi komedian sebagai side job, berulang kali bertingkah yang mengundang tawa penonton. Terutama saat dia melakukan breakdance diiringi Duta yang menjadi rapper dadakan. Rapper Boso Jowo tepatnya. Belum cukup sampai disitu, mereka mencari Ayu Tingting lewat “Alamat Palsu.” Sesi pertama ditutup “Perhatikan Rani” yang diambil dari album pertama. 

Sebelum sesi kedua dimulai, penonton disuguhi video testimony dari musisi-musisi asal Malaysia seperti Siti Nurhaliza dan Hujan Band. Cukup beralasan mengingat Sheila On 7 punya basis massa cukup kuat di negeri jiran tersebut. “Hingga Ujung Waktu” yang dimainkan secara instrumental oleh oleh kelompok string sectiondari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta menjadi pembuka set kedua. Set santai penurun tensi.

Duta, Eross, Adam dan Brian memainkan nomor-nomor seperti “Jadikan Aku Pacarmu,” “Terlalu Singkat” juga “Sephia” dalam format akustik yang hangat. Saat membawakan “Berhenti Berharap,” lagu yang merupakansoundtrack dari film garapan Upi Avianto tersebut terdengar jauh lebih menyayat sekaligus gagah sebagai sebuah lagu putus cinta. 

Klimaks dari sesi dua adalah saat “Dan,” yang dinobatkan sebagai salah satu dari 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia, dibawakan. Eross, Adam dan Brian menjalankan tiga fungsi dalam satu gitar akustik Eross. Diawali dengan, lagi-lagi, tingkah Adam, mereka menunaikan tugasnya tanpa cela. Eross sebagai melodi, Adam menjaga tempo dengan memetik senar E, sementara Brian menjalankan fungsi perkusi dengan mengetuk-getuk bodi gitar. Balutannya adalah vokal khas dari Duta.

Tensi kembali meninggi di set pamungkas. Gempa tremor lagi-lagi terjadi karena Sheila On 7 seperti melepaskan semua energinya di sesi yang diawali dengan “PeDe,” nomor yang diambil dari album selftitled ini. Di sesi medley “Brilliant 3X,” “Pejantan Tangguh” dan “Hari bersamanya,” Brian sempat unjuk kebolehan. Drummer yang masuk The 50 Greatest Indonesian Drummers versi Rolling Stone Indonesia ini memamerkan kekuatan bak badak yang jadi ciri khasnya. “ Kalau masih banyak yang menganggap Brian personel baru, Brian ini sudah bergabung selama setengah usia Sheila On 7,” ujar Duta. 

Puncak malam itu adalah setelah “Hari Bersamanya” selesai dimainkan. Duta memanggil semua istri dan anak personel Sheila On 7, kru, dan tim dari Kita Production, event organizer penyelenggara segala keriaan di malam tersebut yang beranggotakan teman-teman dekat mereka.

“Nah ini Adam yang paling produktif. Sudah punya tiga anak. Kalau ditanya alasannya mengisi waktu luang,” ujar Duta disambut tawa deras dari Adam. “Seharusnya yang mendapat kredit dari orang-orang di luar sana adalah semua teman-teman disini. Yang berdiri lebih lama dari Sheila On 7, yang teriak-teriak gak pake mic,” teriak Duta dari panggung. Setelah melakukan ritual tiup lilin, “Melompat Lebih Tinggi” akhirnya menjadi penutup. Semua melonjak disertai hujan balon dan hujan confetti. Duta kemudian menceburkan diri ke Sheila Gank yang siap menopangnya. 

Penonton masih bergeming. Satu menit dua menit lewat. Beberapa sudah bersiap untuk undur diri sebelum akhirnya encore “Sebuah Kisah Klasik” dari album Kisah Klasik Untuk Masa Depan benar-benar memungkasi. Malam itu, sebuah pelajaran berharga baru saja diberikan.

Sumber: http://rollingstone.co.id/read/2012/05/21/113537/1920639/1093/dari-konser-16th-anniversary-sheila-on-7-di-yogyakarta

 
2 Comments

Posted by on May 21, 2012 in Uncategorized

 

2 responses to “Dari Konser ’16th Anniversary’ Sheila on 7 di Yogyakarta

  1. nanik

    May 21, 2012 at 7:13 am

    wowww mapatapp mas ^_~

     
  2. Ferry_Fivers

    May 22, 2012 at 1:03 am

    wawww kerenss…. =D

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: