RSS

LETAK NILAI KEMANUSIAAN SEORANG MANUSIA

19 Sep

Tujuan Diciptakannya Manusia

Sebagian manusia tidak menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan bukan tanpa tujuan. Bahkan Allah Ta`ala menciptakan manusia dengan satu tujuan yakni untuk beribadah kepadaNya. Hal ini diberitakan oleh Allah Ta`ala didalam Al Qur`an Surat Adz Dzaariyaat 56: “Dan tidaklah Aku Ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah (mengabdi) kepada-Ku”.Oleh karena itu kita perlu menelusuri lebih kebelakang, untuk memahami untuk apa kita beribadah?

Memahami Makna Ibadah
Kita Beribadah sesungguhnya merupakan bentuk amalan syukur kita kepada Allah. Bila kita mengingat luasnya nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita, maka sungguh amat kecil pekerjaan ibadah yang Allah bebankan kepada kita dibandingkan luasnya nikmat Allah yang luar biasa tersebut. Maka bila amalan ibadah kita itu dalam rangka syukur kita kepada Allah, sungguh syukur kita itupun masih teramat sedikit jika dibandingkan terhadap limpahan nikmat-nikmat Allah tersebut. Allah berfirman di dalam surat Ibrahim 34: “ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). “
Nikmat Allah tidak bisa kita hitung saking banyaknya, namun ibadah kita bisa kita hitung saking sedikitnya. Ibadah yang kita lakukan adalah dalam rangka syukur kita kepada Allah, bukan dalam rangka membalas nikmatnya. Sebab jangankan untuk membalas limpahan nikmat dari Allah Ta`ala tersebut, menghitungnya pun kita tidak akan mampu. Ini artinya kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan kepada kita sesungguhnya merupakan Rahmat dari Allah Ta`ala. Seandainya Allah menuntut kita untuk membalas segala nikmat-Nya kepada kita, maka sungguh kita tidak akan pernah mampu untuk membalasnya. Tapi karena rahmat Allah-lah, beban kewajiban Allah itu menjadi demikian ringan dan entengnya bila kita bandingkan dengan besarnya nikmat-nikmat yang Allah limpahkan kepada kita tersebut. Dan karena rahmat Allah pula, Allah masih saja selalu memaafkan kita atas sekian banyak kelemahan kita dalam menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut, padahal kewajiban Allah tersebut telah amat sedikit dibandingkan limpahan NikmatNya. Oleh sebab itu sesungguhnya Allah Ta`ala menuntut kepada kita tidak terlalu banyak jika dibanding fungsi kita hidup di dunia ini. Kita hanya dituntut untuk beribadah kepada Allah ta`ala dengan segenap kemampuan yang ada pada kita sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya.

Allah menfasilitasi Manusia
Ketika Allah memberitakan bahwa misi hidup kita adalah untuk beribadah kepadanya, maka Allah juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang sangat lengkap untuk menunjang misi tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 29: “Dia-lah Allah, yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
Di dalam ayat diatas diberitakan bahwa Allah Ta`ala menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi ini untuk kita sebagai fasilitas dalam menjalani kehidupan kita di dunia. Di dalam ayat ini pula Allah Ta`ala menggambarkan betapa besar kekuasaannya yang mampu menciptakan bukan hanya bumi seisinya, namun juga tujuh lapis langit yang berada di atas bumi, yang seolah-olah Allah ingin menyadarkan kita bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pihak yang mampu menciptakan itu semua, sehingga oleh sebab itu hanya Ialah satu-satunya pihak yang pantas disembah dan diibadahi dengan segala kekuasaan dan kebesaran yang Ia miliki tersebut.
Nilai Kemanusiaan Manusia
Setelah kita memahami makna dari ibadah dan segenap fasilitas yang telah Allah sediakan untuk kita, maka mestinya kita mulai menyadari untuk apa kita diciptakan oleh Allah Ta`ala. Pertanyaan ini telah dijawab oleh Allah Ta`ala dalam surat Azd dzariyat 56 di awal pembahasan kita di atas, yakni misi hidup kita adalah hanya untuk beribadah kepada Allah. Hal inilah yang harus kita tanamkan di dalam diri kita dan kita ingat-ingat terus bahwa mulai dari saat kita berusia baligh sampai kematian menjemput kita nanti, tugas kita adalah beribadah kepada Allah.
Oleh sebab itu besarnya nilai kemanusiaan dalam diri manusia itu ialah tergantung sampai sejauh mana ia menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah. Manusia itu akan semakin jauh dari nilai kemanusiannya ketika ia semakin lepas dari kewajibannya (meninggalkan) untuk beribadah kepada Allah. Sementara ketika semakin jauh manusia itu dari nilai kemanusiaannya berarti semakin tidak bernilai ia sebagai manusia.
Maka sungguh lucu kalau ada orang yang mengatakan bahwa hidup di dunia ini hanya sekedar hidup dan tidak ada misi apa-apa. Maasyaallah, bagaimana mungkin Allah menciptakan manusia tanpa misi-apa-apa?, hanya misi sekedar hidup, seperti hidupnya sapi, kambing, kerbau dan sejenisnya yang hanya seputar makan, minum, buang air, kawin, tidur? subhanallah, inilah contoh ketika manusia itu telah jauh dari nilai kemanusiaannya, sehingga yang ia fikirkan dan lakukan dalam kehidupannya tidak jauh berbeda dengan rutinitas di dalam kehidupan hewan. Tidak ada nilai lebihnya, sebab ia meninggalkan misi hidup yang telah Allah bebankan kepadanya yang dengan misi itu membedakan antara manusia dengan hewan yakni beribadah kepada Allah. Allah mensinyalir orang-orang yang semacam ini di dalam surat Al A`raaf 179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Allah menggambarkan adanya orang-orang yang telah diberikan fasilitas yang lengkap (seperti pendengaran, penglihatan dan hati) untuk mengenali dan memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, namun ia tidak mau menggunakan fasilitas tersebut sebagaimana mestinya, maka Allah istilahkan orang-orang semacam ini dengan “seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat atau rendah dari binatang ternak”. Mengapa mereka lebih rendah dari binatang ternak? Karena binatang ternak, mereka masih bertasbih kepada Allah. Allah berfirman di dalam surat Al-Isra’ 44: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka, Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun “. Semua suara hewan itu bertasbih kepada Allah, sementara manusia yang bertingkah laku seperti hewan tadi, yakni tidak menjalankan misi hidupnya sebaaimana yang Allah kehendaki, mereka ini tidak bertasbih kepada Allah, sehingga manusia semacam ini lebih rendah derajatnya daripada hewan.
Kemudian orang yang mengerti misi hidupnya, ia akan senantiasa senang dan tenang dalam menghadapi segala macam problematika hidup didunia ini sebab ia mengerti bahwa segala problematika tersebut merupakan kemestian yang harus ia hadapi di dalam menjalankan misi hidup di dunia ini dan ia meyakini bahwa Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi yang mampu menjalaninya dengan baik sesuai dengan yang dikehendaki Allah, sehingga ia senantiasa optimis di dalam menjalani hidup di dalam kondisi yang seperti apapun. Ia mengerti bahwa makan, minum, bekerja dan sebagainya itu ialah dalam rangka beribadah menjalankan perintah Allah Ta`ala. Adapun orang yang tidak mengerti misi hidupnya, untuk apa ia makan, minum, bekerja dan sebagainya? Sungguh ia akan merasa capek di dalam hidup di dunia ini karena ia tidak mengetahui tujuan yang hakiki dari semua kegiatan tersebut, sehingga kegiatan yang ia lakukan itu hanya sebatas rutinitas biasa saja tanpa ada harapan apapun dibalik itu. Pada saat bekerja disangkanya setelah ia kaya ia akan bahagia, namun setelah ia kaya ternyata masih muncul sekian banyak problem yang harus dihadapi, akhirnya iapun stress. Disangkanya ketika sudah mapan hidunya ia akan senang, namun ternyata setelah mapan, muncul lagi sekian banyak problem yang harus ia hadapi, sehingga iapun tertekan. Seolah-olah problem demi problem itu selalu menghantui hidupnya, tanpa mengetahui hakikat dari problem tersebut dan kemana ia harus bawa problem tersebut. Demikian terus menerus keadaannya akibat ketidakmengertiannya terhadap misi hidupnya di dunia, untuk apa ia bekerja, untuk apa ia beraktivitas dan sebagainya.
Maka semakin tinggi nilai ibadah seseorang itu, semakin tinggi pula nilai kemanusiaan dari orang tersebut. Dan semakin rendah nilai ibadah seseorang itu, semakin rendah dan jauh pula orang tersebut dari nilai kemanusiaannya (semakin tidak bernilai sebagai manusia). Dan bila kita telah mengerti bahwa misi hidup kita di dunia ini adalah untuk beribadah, maka tentunya perjuangan yang mesti kita lakukan adalah terus menerus memperbaiki kualitas ibadah kita, baik itu yang menyangkut hubungan kita dengan Allah, maupun hubungan kita dengan sesama makhluq Allah, sehingga kita betul-betul menjadi “manusia yang manusiawi”. Wallahu Al`lamu Bishshawaab.

Sir Bram Novaldi – Takmir Masjid An Nuur PLN MJK.

Makasih ya my mom, sudah ngirimi saya artikel ini o:)

 

 
Leave a comment

Posted by on September 19, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: